Jujur Itu…

image

Katakan yang benar

Jujur, merupakan mata uang yang paling diterima di seluruh dunia. Siapa yang akan menolak kejujuran itu hal yang terbaik. Jujur adalah sifat yang senantiasa dapat menjaga pemiliknya dan orang-orang di sekitarnya.

Islam mengajarkan, jujur adalah pangkal kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Kebalikan dari jujur adalah dusta. Dusta adalah pangkal kejahatan, dan kejahatan akan membawa ke neraka.

Terkadang untuk selalu mengedepankan kejujuran muncul berbagai rintangan. Timbul tekanan dari diri maupum lingkungan untuk berkata dusta. Dengan berdusta, awalnya mungkin bisa menyelamatkan diri, sementara. Tapi dengan sekali berdusta, akan diikuti dusta-dusta yang lain.

Dengan selalu menjaga sifat jujur, akan menghindarkan pemiliknya dari berbagai kemaksiatan. Karena sejatinya, kemaksiatan adalah sesuatu yang ingin disembunyikan.

Mari kita selalu menjaga kejujuran disetiap tutur dan laku kita.

Tanah yang Baik Tumbuh Tanaman yang Baik

Mengingat isi kajian selasa 12 februari 2013 kemarin, diterangkan salah satu ayat dalam Al-Qur’an al kariim yaitu surat al-a’raf ayat  58 yang arti dalam bahasa Indonesia :

Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur. [Al-A’raf : 58]

pada ayat itu diterangkan hal yang sebenarnya sangat klasik dan bahkan seorang anak kecil yang belum berpengalaman pun akan tahu bahwa tanah yang baik, tanaman-tanamanyya akan tumbuh subur tenntu dengan seizin Allah. tapi Allah kembali berfirman menjelaskannya. Berarti hal tersebut merupakan suatu yang prinsip.

namun beberapa waktu terakhir ini banyak para petani lebih memilih menggunakan pupuk anorganik yang sejatinya malaah merusak unsur hara dalam tanah. Dijelaskan pula bahwa yang paling baik untuk memupuk tanah adalah pupuk KASCING (bekas cacing). Artinya sisa dari metabolisme cacing taah yang digunakan untuk memupuk.

Masih Makan…?!?!?!?!?

Kejadian ini layak untuk diceritakan karena mungkin berguna untuk kita semua.

Akhir-akhir ini persepak bolaan Indonesia sedang menjadi sorotan banyak orang, karena memang akhir-akhir ini timnas Indonesia sering menang. Hal ini meningkatkan kecintaan bangsa Indonesia terhadap timnas.

Begitu juga dengan teman-teman saya, orang-orang yang biasanya tidak doyan bola jadi ikut nonton. Lha berhubung jadwalnya pertangsingan badminton (cup-cup-an critane) trus yang mau nonton banya, maka diselenggarakan acara nonton bareng.

Untuk mendukung acara itu, maka rencananya kita-kita pasang layar LCD besar di GOR margajaya. Perencanaan-pun dilakukan beberapa hari sebelumnya. Si A bawa ini, Si B bawa itu. Semua sudah di sepakati bersama.

Kemudan pada hari H, jam J, yang dipakati semua bahan dikumpulkan. hampir jam 7 malam, dan bahkan pertandingan sepak bola AFF Suzuki 2010 antara Filipina dan Indonesia dimulai, tapi LCD-pojector-nya belum juga datang. Kemana orang ini (yang bawa), trus di telpun. ternyata masih makan. secara reflek yang nunggu2 pada bertanya keheranan, “Masih makan?!?!?!?!”

Bagitulah koordinasi, kerja sama. Seharusnya masing-masing mengerti kewajibannya. Yang namanya pertandingan bola jam 18.30, paling tidak persiapan sudah selesai sebelumnya. Idealnya setiap orang dalam team melaksanakan kewajibannya sebaik mungkin. Meninggalkan egonya, makan ya setelah peralatan dipasang.

Dan hal ini juga dapat diaplikasikan dalam sehala hal.

Semoga bermanfaat 🙂

Segurat catatan ketika kita berpisah

Siang ini saya berfikir dan mengalami penyesalan, karena kelakuanku semalam. Saya mengucapkan salam perpisahan kepada seorang dengan sedikit emosional, tidak begitu terkontrol. Dan memang penyesalan selalu datang belakangan.

Setelah perenungan yang panjang, saya teringat sebuah ungkapan “Jangan ucapkan selamat tinggal jika berharap masih ingin bertemu lagi.” Bisakah kata-kata yang terucap dapat ditelan kembali? Namun sayang memang hal itu tidak bisa dilakukan. Yang bisa kulakukan kini adalah menambah beberapa untaian kata. ialah kata maaf yang harus mengiringi.

Ada satu kalimat lagi yang perlu untuk kita renungkan, “Dimana ada pertemuan, disitu pasti ada perpisahan……Namun akankah sebuah perpisahan membuahkan lagi suatu pertemuan???”

Saya menyesal tentang semalam, kuharap kamu memaafkanku dan kembali. Semoga bermanfaat. 🙂

Stasiun Balapan s/d Stasiun Maguwoharjo Sore ini

Suatu sore, yah sore ini (4 juli 2010) saya menunggu kereta di Stasiun Balapan, Solo. Terlihat banyak sekali aktifitas manusia berlalu-lalang dengan urusannya masing-masing. Ada yang meu pulang ke Bandung, ada yang mau berangkat ke Bandung, ada yang mau ke Jogja, ada yang mau ke Surabaya, ada yang mau ke Jakarta. Pemikiran orang orang ini berbeda satu sama lain. sungguh aku merasa terasing di keramaian ini.

Kemudian aku mencoba bergeser dari tempat dudukku, menuju tempat dimana saya dapat melihat situasi ini dari sudut pandang lain. Saya menuju tempat sepi diantara peron 5 dan 6. posisi sedikit ke timur. Benar benar jauh berbeda dari tempatku duduk tadi, sebelah selatan peron 1. Dari sini, pemandangan tidak begitu bagus karena terjadi pembangunan di stasiun ini.

Saya kembali bergeser, berganti posisi dan sudut pandang tetap diantara peron 5 dan 6. dilalui olah banyak sekali orang, namun mereka tidak memperhatikan saya, hanya saya memperhatikan mereka.

Ada beberapa kejadian yang saya tengkap dari sudut ini. Pertama tama bocah yang lincah berlarian kesana kemari, tidak takut akan bahayanya melompat-lompat di atas rel kereta api. Yang kedua seorang pemuda yang tali tasnya putus, kemudian di perbaikinya. Di sebelah kanan saya agak jauh kedepan, dua orang anak yang berebut satu mainan dan dengan kasih sayang ibunya melerai mereka.

Berhubung jam sudah mendekati kedatangan kerata yang akan saya tumpangi, saya bergeser ke posisi pertama saya duduk, di dekat peron 1. Di sebelah kiri saya masih kosong, sebelah kanan saya ada seorang pria yang tadi saya kenalan dia kuliah di UII angkatan 2004 jurusan informatika. Tampangnya bergaya, pakai topi dan kacamata, sekarang dia bergelut di bidang advertising.

Selang beberapa menit, dua orang bule duduk di sebelah kiri saya, tepatnya sepasang bule. Kemudian mereka bercanda tanpa menghiraukan saya yang terganggu dengan candaan mereka yang keras dengan bahasa asing pula (kayaknya bukan bahasa enggris). Beberapa menit, mereka (sepasang bule) mengeluarkan pemainan kartu namanya UNO. ahh, jadi ingat Si Iis Ndunk yang beberapa minggu yang lalu demen sama uno.

Hanya beberapa menit dua bule ini membuat saya terganggu, kereta pun tiba. saya mencari posisi nyaman untuk duduk di kereta ini. Ternyata eh ternyata ada bule lagi duduk di depan saya, untung mereka tidak heboh kayak bule yang pertama. Seperti biasa saya “ketiduran” di kereta. Tiba tiba saya terbangun, tengok sana-sini, untung baru sampai di stasiun klaten.

Beberapa menit kemudian sampelah saya di Stasiun Maguwo. Jalan kaki menuju asrama, makan, mandi, dan gosok gigi. Ini hanya cerita, pengalaman tadi sore. Mudah-mudahan bermanfaat.

Akankah Bahasa Kita Menghilang

Berawal dari percakapan bersama seorang sahabat. mengomentari sebuah logo yang berbunyi “Generation Enlighment”. Dia melontarkan suatu pertanyaan kepadaku, “Jar, Fajar, Yang bener itu Generation Enlighment atau Enlighment Generation?” Untuk saat itu aku belum nyambung dengan omongannya, bahwa dia mengomentari sebuah logo. aku jawab, “ga tahu lah kelihatannya yang bener tuh Enlighment Generation.” Kemudian dia menunjukkan tulisan besar yang berbunyi “Generation Enlighment”. Seketika aku ragu apakah aku yang salah, karena aku tidak begitu ahli dalam berbahasa asing.

Pembicaraan yang tadinya dimulai dari hal yang begitu sederhana kini berkembang menjadi pemikiran yang lebih luas. Muncul pertanyaan-pertanyaan yang kritis dari percakapan yang kami lakukan. Seperti, “Kenapa kita sebagai bangsa Indonesia malah membuat slogan-slogan dengan bahasa asing?”. Juga pertanyaan “Adakah kemungkinan kita akan kehilangan bahasa kita sendiri, karena bagitu banyak generasi muda (hal ini adalah jawa karena saya tinggal di Jawa) tidak paham aksara jawa (huruf jawa)”.

Dikampus, pemikiran ini masih berlanjut. Melihat dari sahabat-sahabat saya yang lebih suka menggunakan istilah asing dari pada istilah dari bahasa kita sendiri. Kata meeting lebih sering digunakan dari pada kata pertemuan atau rapat oleh sebagian sahabat. Atau kalau sering ke masjid fakultas, kata antum atau ana lebih banyak digunakan oleh para sahabat dari pada kata kamu atau saya. Katanya lebih islami. Atau ketika istirhat dalam acara seminar, kenapa harus menggunakan istilah break, apakah kata istirahat tidak cukup mewakili?

Sungguh suatu yang memprihatinkan buatku. Dengan tulisan ini, saya mengajak sahabat-sahabat saya untuk membudayakan bahasa kita. jangan sampai bahasa kita tidak lagi digunakan di negri kita sendiri.