Semangat Kakek Penjual Roti

Kakek

Setiap pagi, kakek itu selalu lewat di depan rumahku. Setap pagi itu pula, kakek itu menggunakan jasa telpon (wartel) di kios saya. Si kakek itu berjalan mendorong grobak roti. Suatu ketika saya tanya kepada beliau, sedikit knapa telfon tiap pagi, kemudian beluai malah cerita panjan lebar.

Kakek itu kelahiran sekitar tahun 1933, sudah terhitung tua untuk orang yang masih aktif bekerja. Kedua anaknya memiliki bengkel yang cukup ramai di Solo ini, tetapi dia tidak mau tinggal bersama anaknya, dia memilih untuk amndiri, karena jika nantinya  pasif, akan mempercepet ke-pikun-nan katanya.

Kemudian soal jualan roti, dari tempat saya tinggal (tempat kakek ini telpon pabrik roti) ke pabrik roti itu sendiri jaraknya ada sekitar 5 km. kemudian dia berkeliling trus pulang ke rumah. Dia lakukan tiap hari. berapa jauh dia berjalan? dan berapa penghasilan beliau? coba bandingkan dengan diri kita, seberapa rajin kita bekerja….?

Mungkin njenengan yang muda, relatif lebih mudah dalam mendapatkan uang. Disini saya melihat sifat perwira dari kakek itu. Yakni sikap/sifat tidak mudah-muda meminta jika dia mampu. Tidak menjadi pengemis seperti para pemuda yang kuat dan sehat dijalanan, yang mungkin sekarang ini cenderung ke arah perampokan (karena kalo tidak dikasih, terus-terus mendesak dengan kalimat “100 wae mas (100 saja mas).”

Semoga bermanfaat. 🙂

Gambar sebagai ilustrasi saja, di dapat dari http://3.bp.blogspot.com/-DbmFZ-_07xA/TVj6Lpan08I/AAAAAAAAAKw/kGoj79rCiTk/s1600/kakek.jpg

2 thoughts on “Semangat Kakek Penjual Roti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s