Ketika Cinta Bicara

Copas dari artikel Ketika Cinta Bicara yang ditulis oleh djghina

Sedikitpun tak pernah terbayang oleh saya, sosok intelektual macam BJ.Habibie yang seringkali dianggap tough bahkan kaku, mengharu biru dalam tangis, mengurai kalimat yang begitu puitis…

Dari sorot matanya saya tahu bahwa tak mudah mengumpulkan kekuatan untuk kembali mengingat, apalagi menceritakan kisahnya bersama sang istri, ibu Ainun Habibie, yang belum lama ini telah pergi, bukan sementara tapi untuk selamanya.

Saya kembali dikejutkan, bapak Habibie masih ingat betul detail cerita cintanya, mulai dari olokan teman2 yang memintanya berkaca diri ketika berniat mendekati, kecerdasan perempuan yang lebih suka tampil sederhana hingga kedua bola mata dan senyuman khas ibu Ainun yang selalu melekat dalam sistem dirinya.

48 tahun kebersamaan mereka, tak heran jika beliau bersikukuh menemani ibu saat sakitnya, tak pernah sekalipun beliau pulang dari rumah sakit untuk beristirahat, meski mendapat pengusiran. 4 minggu berlalu, 12 kali ibu dioperasi, beliau setia mendampingi. Mereka bahkan selalu sholat berjamaah, beliau membimbingnya dengan bisikan di telinga dan ibu perlahan mengikuti meski lewat gerakan bibir semata.

Suatu waktu, dalam keadaan lemah, ditopang puluhan selang serta alat elektronik untuk keberlangsungan hidupnya, ibu Ainun terlihat begitu murung, beliau pun bertanya:
“kamu sesak nafas?”, ibu menggeleng
“kamu merasa sakit?”, ibu menggeleng
“kamu takut?”, ibu mengangguk
“takut saya belum minum obat?”, ibu kembali mengangguk
“takut saya belum makan?”, ibu mengangguk lagi
Allahu Akbar, tak sedikitpun ibu memikirkan dirinya, ia hanya mengkhawatirkan suaminya.

Diakhir kebersamaan mereka, bapak BJ.Habibie kembali menguatkan diri mengucapkan kalimat doa bagi sang belahan jiwa:
“terima kasih Allah, Engkau telah lahirkan saya untuk Ainun, dan Ainun untuk saya”
“terima kasih Allah, Engkau telah pertemukan saya dengan Ainun, dan Ainun dengan saya”
“terima kasih Allah, tanggal 12 Mei 1962 Kau nikahkan saya dengan Ainun, dan Ainun dengan saya”
“terima kasih Allah, Engkau telah menitipi bibit cinta yang murni, suci, sejati, sempurna dan abadi. Supaya kami tahu bahwa dititipi bukan berarti memiliki, melainkan bisa diambil kembali.

…”48 tahun sesudahnya, cinta yang kami siram telah menjadi besar, mengalahkan semesta, bukan karna cinta milik kami melainkan karna cinta dititipi pada kami”…

“saya akan berusaha untuk kuat, tapi ketika tiba saatnya saya pulang, saya mohon padaMu ya..Allah, tempatkan saya berdampingan dengan Ainun di dimensi yang sama..alam barzah”

Sungguh, Allah telah mengajar kita dengan caraNya..bahwa cinta telah bicara

Ps: thx to tayangan Mata Najwa yang disiarkan dini hari tadi, kamis 1 Juli 2010

10 thoughts on “Ketika Cinta Bicara

  1. PAk Habibie itu manusia biasa seperti kita meskipun memiliki kelebihan daripada kita. Dan PAk Habibie masih tetap manusia yang punya hati; bukan robot.

    Pak Habibie bikin iri atas caranya mencintai istrinya.

    Salam,

    Mochammad
    http;//mochammad4s.wordpress.com/

    Suka

    • asl,kamu itu bagaikan burung yang hinggap di dainan pohon,akulah cintamu,tak terasa diri ini sangat rindu padamu.apakah kau masih cinta pada ku?,apakah kau ingin q kembali padamu?,aku cinta padamu,malam ini ku kirimkan jawaban q kalau q masih cinta padamu,tp, sayang kamu ini hari merasa kecewa pada seorang teman,apakah kau bisa menghiburku?,q rindu padamu,sudah 3 bulan qt tak berbicara,aku ingin mimpi brsamamu hingga kita nikmati malam ini berdua dengan secara dewasa.ya allah kabulkanlah

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s