Seperti Keluarga Simpsons

Keluarga SimpsonsSaya pernah menonton sebuah film yang menurut kebanyakan teman temanku tidak menarik. Meski pu gene film ini adalah film lucu, banyak dari teman temanku yng tidak menganggapnya lucu. Tapi bagiku film ini sangat menghibur, kucu dan sarat akan kritik sosial.

Kritik yang paling jelas adalah bagaimana kehidupan sosial masyarakat yang tidak saling mengacuhkan dan kadang kadang tentang lingkungan. Disini, saya ingin bercerita mengenai The Simpsons Movie alias yang bukan film seri.

Sebelumnya, profil dari masing masing anggota keluarga. Sebagai kepala keluarga yaitu Hommer, memiliki sifat yang sangat keras kepala. Ibu dari anak-anak adalah Marge, sifatnya yang penyabar membuat keluarga selalu utuh.

Anak pertama mereka adalah Bart, anak yang bisa dibilang agak nakal. Adik dari Bart adalah lisa, dia perhatian dan selalu serius, Anak terakhir adalah Maggie masih bayi, belum bisa bicara.

Ada beberapa pelajaran yang mungkin bisa kita ambil dari kehidupan keluarga ini (menurut saya sih…). Pertama, meskipun berbeda karakter, mereka dapat hidup rukun sebagai sebuah keluarga. Walau kadang ada gesekan kecil di dalamnya.

Hommer tidak segan-segan meminta maaf kepada Marge ketika dia bersalah. Marge selalu mendukung dan mengarahkan apa yang dilkukan suaminya demi kebaikan keluarga. Lisa selalu curhat kepada ibunya ketika ada permasalahan senang atau pun susah, seperti berkenalan dengan Collin dari Irlandia. Bart dekat dengan ayahnya meskipun ayahnya menjengkelkan. Dan yang selalu diucapkan oleh Hommer ketika menghadapi permasalahan yang sulit atau kebahagiaan yang luar biasa.

Kata kata itu adalah “hingga saat ini”. Ketika mendapat permasalahan yang sangat sulit, dia berkata ini adalah hari terburukku hingg saat ini. Dan ketika bahagia dia berkata, ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidupku hingg saat ini.

Mengapa hingg saat ini saya angap pelajaran penting? Jawabnya adalah dengan begitu, Hommer selalu melihat masa depan. Dia menganggap bahwa akan datang kebahagiaan yang lebih membahagiaan dari pada kebahagiaan yang sekarang, hingga dia tidak lupa diri. Atau akan datang masalah yang lebih berat dari masalah yang ia hadapi sekarang, sehingga dia tidak lengah.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah cukup bersyukur dan bersabar?
Sumber gambar dari http://trueslant.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s