Kehidupan yang Berat

Pagi ini, desala kesibukanku sebagai orang yang sok sibuk, aku berbincang sama temanku. Temanku adalah orang yang kukenal satu setengah bulan yang lalu. Dia bercerita panjang-lebar tentang kehidupannya. Menurutku itu adalah kehidupan yang teramat sulit untuk kubayangkan.

Awalnya dia adalah anak serang yang berkecukupan, untuk masalah harta, dia tidak kekurangan. Tetapi kehidupan itu segera berubah ketika sang ibu curiga kepada ayahnya bahwa ayahnya main serong. Lha, si ayah yang tidak merasa main serong ogak terima, terjadilah pertengkaran seru. Akhirnya, diputuskan si ayah keluar dari tempat kerja (walaupun keputusan ini diambil bukan lantaran akal sehat) dan gantian si ibu yang bekerja.

Setelah sekian bulan, karena tidak bekerja, si ayah jadi stress dan masuk rumah sakit jiwa. Si ibu bingung, dia meninggalkan pekerjaan dan lupa mengurus anak, untuk mengurus suami yang stress karena nganggur. Setelah pulih si suami bekerja lagi sebagai mandor bangunan. ketika mbengun jembatan, ada banjir, dan semua meterialnya hanyut. si suami stres lagi dan masik rumah sakit jiwa kembali.

Kembali anak anak dilupakan, dan mereka mengambil jalan hidupnya masing-masing. Ketika tulisan ini dibuat, si suami sudah meninggal, si ibu sudah tua, dan si anak sudah besar dan bisa mencari nafkah sendiri.

5 thoughts on “Kehidupan yang Berat

  1. Sekadar untuk diketahui, seseorang yang pernah sakit jiwa, akan ada kemungkinan untuk kambuh lagi, jadi hati2.
    Tapi bukan itu permasalahannya, penyebab munculnya gangguan jiwa karena adanya ketidakseimbangan mental dengan kemampuan diri untuk menghadapi.

    Suka

  2. Ehm… saya lanjutkan lagi,(maaf tadi sempat terputus, ada sedikit trouble).
    Seseorang diciptakan terdiri dari jiwa dan raga, tidak hanya fisik saja yang butuh asupan makanan, melainkan jiwa juga. Nah, maka itu perlu adanya keseimbangan antara keduanya.Makanan jiwa saya kira gak ada yang lebih bergizi dari “ngaji”. Sarankan aja pada temen njenengan untuk menghindari pemicu terjadinya masalah yang sama, agar kejadian itu tidak terulang lagi.itu cukup dijadikan pelajaran aja untuk kita semua…
    Dan mungkin perlu diketahui juga, bahwa penyakit jiwa itu bisa muncul karena ada salah satu dari nenek moyangnya mengalami gang. Jiwa, alias penyakit jiwa bisa disebabkan karena keturunan,itu salah satu precipitating factor-nya (faktor penyebab). Semoga teman Anda senantiasa diberi kesabaran, amiin.

    Suka

  3. Mmmm… kita sering merasa hidup begitu berat (versi kita), setelah mendengar kisah orang lain, baru sadar, ada orang lain yang lebih kuat dengan beban yang jauh lebih berat. SESUATU YANG TIDAK MEMBUNUHMU, AKAN MENGUATKANMU….

    Suka

  4. Yang sedang duduk di kursi : Saya gak bisa ngasih aran apa-apa pada teman saya karena si bapak telah meninggal.
    Syifa : Seberat apa-pun masalah kita, Allah bisa mengatasinya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s