Berawal dari percakapan bersama seorang sahabat. mengomentari sebuah logo yang berbunyi “Generation Enlighment”. Dia melontarkan suatu pertanyaan kepadaku, “Jar, Fajar, Yang bener itu Generation Enlighment atau Enlighment Generation?” Untuk saat itu aku belum nyambung dengan omongannya, bahwa dia mengomentari sebuah logo. aku jawab, “ga tahu lah kelihatannya yang bener tuh Enlighment Generation.” Kemudian dia menunjukkan tulisan besar yang berbunyi “Generation Enlighment”. Seketika aku ragu apakah aku yang salah, karena aku tidak begitu ahli dalam berbahasa asing.
Pembicaraan yang tadinya dimulai dari hal yang begitu sederhana kini berkembang menjadi pemikiran yang lebih luas. Muncul pertanyaan-pertanyaan yang kritis dari percakapan yang kami lakukan. Seperti, “Kenapa kita sebagai bangsa Indonesia malah membuat slogan-slogan dengan bahasa asing?”. Juga pertanyaan “Adakah kemungkinan kita akan kehilangan bahasa kita sendiri, karena bagitu banyak generasi muda (hal ini adalah jawa karena saya tinggal di Jawa) tidak paham aksara jawa (huruf jawa)”.
Dikampus, pemikiran ini masih berlanjut. Melihat dari sahabat-sahabat saya yang lebih suka menggunakan istilah asing dari pada istilah dari bahasa kita sendiri. Kata meeting lebih sering digunakan dari pada kata pertemuan atau rapat oleh sebagian sahabat. Atau kalau sering ke masjid fakultas, kata antum atau ana lebih banyak digunakan oleh para sahabat dari pada kata kamu atau saya. Katanya lebih islami. Atau ketika istirhat dalam acara seminar, kenapa harus menggunakan istilah break, apakah kata istirahat tidak cukup mewakili?
Sungguh suatu yang memprihatinkan buatku. Dengan tulisan ini, saya mengajak sahabat-sahabat saya untuk membudayakan bahasa kita. jangan sampai bahasa kita tidak lagi digunakan di negri kita sendiri.
Komentar Sahabat